Petaka Valentine

Februari 12, 2009 at 3:24 pm (Uncategorized)

Banyak temanku berbisik bisik durja

Akan datang wik-en berhias ceria

Tua muda berbagi dosa tertua

Sebuah etika barat tak sedap

Palentinan begitu saudari saudariku merayakannya..

Tak tahukan betapa banyak kehormatan tergadaikan?

Malam itu akan menyesalinya, yang telah ternoda

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Taman surga segara anak rinjani

Januari 7, 2009 at 6:08 pm (Taman surga Segara Anak Rinjani)

Melewati pergantian tahun kali ini sungguh memberi cukup goresan kenangan dalam rentetan perjalanan mengenal keindahan tanah pertiwi ini. Sepuluh hari setidaknya menghabiskan waktu untuk menikmati lukisan Ilahi di pulau seribu masjid Lombok. Berbekal sedikit info, sendiri berjalan berpindah dari satu kota ke kota lainnya sampai menjelang 3 hari kemudian kaki ini menginjakkan langkahnya di terminal Bertais Mataram. Tepat bada maghrib beberapa tukang ojek berlari menghadang bus malam terakhir yang kutumpangi (angkutan pedesaan sudah habis..) Silih berganti menawarkan jasa mengantar sampai tujuan. Semua terbalas dengan senyum kelelahan. ” Saya mau bermalam di terminal aja pak” sahutku.

Sembalun Savana

Kantor polisi di sudut terminal dekat MCK menjadi pilihan menginap kali ini. Setelah meminta izin pada Bp Komang yang sedang bertugas, beliau mempersilahkan menginap sampai esok hari. Disini saya berkenalan dengan Bang Zaenuddin petugas dari bus malam yang saya tumpangi dari kota Malang. Beberapa menit kemudian kami menjadi akrab. Bahkan Zeanuddin bersedia mengantar berkeliling kota Mataram dengan motornya. Sekedar menikmati suasana malam dan Ayam bakar Taliwang di pinggiran ruko kota. Terima kasih Zen!

Pagi I di mataram, Suasana terminal bertais mulai menampakkan geliatnya. Sekitar jam 7, saya langsung  mencari angkutan yang menuju Jalur pendakian Rinjani. Dua kali berganti angkutan melewati desa Aikmel dan menuju desa terakhir Sembalun. Di desa Aikmel saya bergabung dengan bersama rombongan dari Depok yang berjumlah 7 orang. dan seorang guide yang berasal dari desa masbagik lombok. Kali ini  kami tidak berhenti di pos pendaftaran Gn Rinjani, namun langsung menuju Bawah Nau sekitar 3 km setelahnya. Dari sini jalur dapat di hemat hampir 2 jam dibandingkan melalui pos pendaftaran.

Jam menunjukan pukul 11 siang, perjalanan menyusuri savana Rinjani dimulai. Jalur yang berbukit bukit dengan beberapa sumber mata air sampai menjelang Pos 3. Sekurangnya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam mencapai pos ini. Setelah rehat makan dan Sholat, saya terpaksa meninggalkan rombongan yang memang berniat istirahat lebih lama.

Dari pos 3 menuju plawangan Sembalun merupakan langkah terhening yang sedang kuhadapi. Jalur yang mulai curam melewati Bukit Penyesalan, tanpa ada terlihat maupun terdengar suara rombongan lain di depan dan belakang menjadikan langkah seakan berjuang dengan degup jantung, mengejar matahari, berharap tubuh unu tetap setia mengantar hasrat mencapai leher Rinjani, Plawangan Sembalun.

Plawangan SembalunSunrise rinjani

Alhamdulillah, saat Isya menjelang di pukul 7 malam, terlihat cahaya lampu tenda di Plawangan. Suara tawa bersahabat membaur menjadi satu dengan kesejukan angin dan arak arakan kabut yang menutupi kediaman Danau Segara Anak. Sapaan selamat datang membuat kami menjadi kenal melebihi batas waktu kebersamaan yang singkat. Suasana malam yang terang di musim hujan merupaka kemudahan yang sangat berarti untuk menikmati panjang malam indah di bascamp Plawangan. Semua berjalan bagai slow motion berhiaskan angin dingin menusuk. Tak berapalama sekitar jam 10 – 11 malam berdatangan beberapa rombongan pendaki yang tersenyum lega merebahkan kelelahan di bukit ini.

Jam 2 malam, saya mengikuti beberapa pendaki lainnya memulai menapaki jalur terjal penuh batu pasir menuju puncak Rinjani. Umumnya dibutuhkan waktu 4-5 jam mencapai puncak Rinjani. Sesaat setelah sholat shubuh, matahari milai menyinari puncak rinjani. Beberapa pendaki yang telah lebih dahulu mencapai puncak, terlihat menikmati momen singkat nan langka ini.

Berkali kali kesendirian ini mengucap syukur, puja puji akan keindahan panorama puncak dan tubuh indah Danau segara Anak.

Segara anak

Pagi ke II, dr puncak rinjani mulai menuruni menuju tenda tempat bermalam untuk segera mengunjungi beningnya Segara anak. Jam 11, kali ini saya memastikan bergabung dengan teman teman pada awal pendakian. MElewati jalur menurun 3,5 jam kemudian kami tiba di Danau Segara Anak. Alam bagaikan tercipta tanpa cela sedikitpun oleh tangan manusia. Disini terdapat pemandian air panas sekitar 10 menit dr danau yang sangat menyegarkan untuk tubuh yang lelah ini.

Satu hal yang istimewa, danau ini menyediakan ikan ikan yang sangat mudah di pancing. Ikan mujair, emas dan carper seukuran telapak tangan yang kami preoleh sangat membuat menu makan malam kali ini bagai menu di restoran tempat biasa kami bernegosiasi dengan liciknya dunia. Disini tersisa hanyalah ketulusan tuk berbagi, tertawa dan bernyanyi …

bila kita tak segan mendaki..
lebih jauh kagi..
kita akan segera rasakan..
betapa bersahabatnya alam..

Permalink 1 Komentar

Rehat akhir tahun

Desember 24, 2008 at 3:01 pm (Uncategorized)

Akhir tahun ini cukup banyak waktu luang yang saya dapatkan.  Perencanaan perjalanan mulai dari Nusa tenggara Barat untuk berkenalan dengan keajaiban lukisan danau segara anak, puncak rinjani di susul dengan napak tilas ke BAnyuwangi dengan alas purwonya sampai berkemah di keheningan pulau sempu. Kali ini saya mencoba kembali marathon dengan segala waktu yang tersedia.

Semoga,

Permalink 1 Komentar

Guci

November 27, 2008 at 6:03 pm (Uncategorized) ()

dsc_28651

Kebersamaan yang terpisah belasan tahunakhirnya bersemi lagi. Meski secara fisik kerap bertemu namun suasana kesibukan berkeluarga, bersosialisasi dan bekerja membuat kami menjadi sosok yang kadang tidak saling kenal satu sama lain.

Ingatlah saudaraku,

kita sama sama rindu saat kita tertidur tanpa alas di mushalla kecil di tengah hawa dingin pegunungan. Saat harus menahan makan siang hingga tiba sore hari karena uang kita hampir habis, saat menaiki atap kereta api yang tengah membelah perbukitan, menunggu mobil yang berbaik hati memberikan tumpangan, saat kita tak sadar tertidur di tengah jemaah sholat karena lelahnya berjalan kaki seharian- sapa yaa..,  dan semua keterbatasan yang justru semakin membuat kita berjalan, ber-backpacking jauh semampu tubuh dan waktu membatasi kita.. Hiperbola ga yaa..

Akhirnya kita berjalan lagi, meski langkah tak seringan dulu. Sekarang semua kita telah berubah, Ada yang tidak kurus lagi.. Ada yang tidak tegar lagi.. Ada yang tidak tersenyum lagi.. Ada yang mulai mudah marah, bahkan ada yang mulai takut makan sate kambing bro..,

Tapi setidaknya kita menyadari bahwa ada suatu yang telah membuat kita berubah kawan.. walau itu tidak kita harapkan..Semoga Alloh beri kekuatan untuk untuk memalingkan hati kita ke arah yang lebih baik lagi

Wahaii yang Membolak balikkan hati.. Tetapkan hati kami di atas agamaMu

Guci, never ending memory

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Selling style

Oktober 7, 2008 at 1:15 pm (Tak Berkategori) ()

Hampir 15 th menjadi bekerja di bidang penjualan, ada sedikit yang terekam dalam mematangkan penetrasi penjualan sebuah produk. Secara fundamental ada 3 hal pokok yang harus disadari yang merupakan kunci meng”goal”kan produk kita terhadap user di depan kita. Yaitu :

1. Personal Knowledge

2. Costumer Knowledge

3. Product Knowledge.

Mudah mudahan ada waktu luang untuk membahas lebih terperinci

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kesurupan di merbabu

September 1, 2008 at 10:52 am (Merbabu) ()

capee dee IV

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ciremai

September 1, 2008 at 10:48 am (Langkah duka dengkul ciremai)

Mendengar disebut sebutnya nama Gn Ciremei dr beberapa pendaki yang kebetulan berada dalam 1 bis, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, serta cerita kegagalan mereka mencapai puncak dikarenakan faktor minimnya persediaan air serta medan yang dominan curam dari start point sampai puncak ciremei, mengingatkan memang betapa sulitnya gunung ini -untuk ukuran gunung gunung di Jawa- untuk di daki. Selain stamina dan semangat, di perlukan juga strategi serta persiapan logistik terutama air yang tidak tersedia kecuali di desa terakhir pendakian. Memang kadang di saat hujan, saya sempat menjumpai air yang tertampung di bebatuan pos Pengasinan. Namun itupun menunggu datangnya hujan dan tidak bisa di jadikan sandaran sebagai sumber air tetap.

008

Meskipun menaiki ciremai lebih dari hitungan jari satu telapak tangan tapi saya belum pernah mencoba jalur lain selain dari jalur Linggarjati. Jalur ini telah membuat jatuh hati dan menjadikannya sebagai salah satu tempat pendakian tersering. Lokasi yang terdekat dari Jakarta setelah gunung gunung di kawasan Bogor tentunya, membuat kerap pilihan mendaki jatuh ke ciremai.

Awal tahun 90an, selepas desa terakhir Linggarjati masih dipenuhi pohon pohoin pinus besar, namun setelah akhir th 90an, hutan pinus telah berubah menjadi ladang ladang penduduk setempat. Entah tahun 2000an..

Mendaki ciremei dari yang pernah dilakoni, setidaknya membutuhkan waktu selama 12 jam atau lebih tergantung stamina masing masing untuk mencapai Pos Pengasinan. Jalur dari bawah menuju Pengasinan merupakan jalur menanjak tiada akhir. Di pengasinan biasanya dijadikan tempat mendirikan tenda untuk menuju puncak yang tinggal 45 menit sampai 1 jam lagi. Pemandangan indah akan segera kita nikmati dari dataran terbuka di leher Ciremai ini. Ladang Edelweis yang mengelilingi lereng ketinggian ciremei ini akan sangat atraktif bila musim mekar tiba.

Untuk mendaki puncak Ciremei dari pengasinan idealnya dilakukan sekitar jam 4 pagi. Sunrise terbentang akan kita nikmati di bibir kawah ini.

Ciremai, The story never …

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Merapi

September 1, 2008 at 10:47 am (Merapi) ()

sabar ya mbah mar..

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sumbing

September 1, 2008 at 10:45 am (Sumbing)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sindoro

September 1, 2008 at 10:44 am (Sindoro) ()

capee deee…

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »